Business News
Home » Blog » Diplomasi Jokowi Buka Jalan, Nanas Indonesia Kini Laris di China

Diplomasi Jokowi Buka Jalan, Nanas Indonesia Kini Laris di China

Jakarta – Kesepakatan dagang yang dibangun pada era Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mulai menunjukkan hasil nyata. Nanas Indonesia kini berhasil menembus pasar China dan bahkan masuk tiga besar negara tujuan ekspor komoditas tersebut. Di saat yang sama, produksi nanas nasional juga melonjak sepanjang 2025, memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen nanas terbesar dunia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi nanas Indonesia sepanjang 2025 mencapai 3,21 juta ton, naik 17,3 persen atau bertambah sekitar 474,1 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong meningkatnya jumlah tanaman yang memasuki masa panen menjadi 747,22 juta rumpun, atau tumbuh 6,32 persen. Puncak produksi terjadi pada triwulan II 2025 dengan hasil panen mencapai 844,79 ribu ton.

Dari sisi daerah penghasil, Lampung masih menjadi sentra produksi nanas nasional dengan produksi 698,9 ribu ton atau 21,74 persen dari total produksi nasional. Posisi berikutnya ditempati Jawa Timur dengan 506,41 ribu ton (15,75 persen) dan Riau sebesar 349,61 ribu ton (10,88 persen).

Lonjakan produksi tersebut ikut mendorong peningkatan ekspor. Sepanjang 2025, nilai ekspor nanas Indonesia mencapai US$334,67 juta atau sekitar Rp6 triliun, meningkat 5,91 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Amerika Serikat masih menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor US$88,89 juta, disusul Belanda US$34,44 juta, sementara China naik ke posisi ketiga dengan nilai ekspor US$31,60 juta. Sebelum 2024, China belum pernah masuk tiga besar tujuan ekspor nanas Indonesia.

Masuknya China sebagai salah satu pasar utama merupakan buah dari kesepakatan bilateral Indonesia-China yang dicapai saat Presiden Jokowi bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada Juli 2022. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menandatangani sejumlah kerja sama, termasuk pembukaan akses impor nanas segar Indonesia ke pasar China. Kesepakatan itu tertuang dalam Joint Press Statement kedua negara dan menjadi salah satu tonggak penting perluasan pasar hortikultura Indonesia.

Kedatangan Jokowi di Kupang Disambut Antusias, Warga Padati Bandara El Tari

Tiga tahun setelah kesepakatan tersebut diteken, ekspor nanas Indonesia ke China terus meningkat. Produk Indonesia kini bersaing dengan pemasok utama lain seperti Filipina, Thailand, Malaysia, dan Kosta Rika di pasar buah China yang dikenal memiliki standar impor yang ketat.

Di sisi lain, impor nanas ke Indonesia masih relatif kecil. Sepanjang 2025, nilai impor nanas tercatat sekitar US$350,65 ribu, meski secara persentase meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Austria menjadi pemasok terbesar, diikuti Thailand dan China.

Keberhasilan menembus pasar China dinilai menjadi peluang besar bagi sektor hortikultura nasional. Dengan jumlah penduduk lebih dari 1,4 miliar jiwa dan tingkat konsumsi buah yang terus meningkat, China merupakan salah satu pasar paling potensial bagi produk pertanian Indonesia. Peningkatan akses pasar ini diharapkan mampu mendongkrak pendapatan petani sekaligus memperkuat kinerja ekspor komoditas hortikultura nasional.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Bagikan